Archive for June, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional: Perlu Revolusi Kebudayaan?

Perjuangan pers pada massa Kebangkitan Nasional telah berhasil menyatukan tekad mewujudkan sebuah bangsa besar yaitu bangsa Indonesia, dengan tanah air satu tanah air Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Puncak dari keberhasilan itu adalah terwujudnya cita-cita kemerdekaan serta mempertahankan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lalu bagaimana dengan sekarang ini? Kita sekarang memang sudah mengalami reformasi. Dari negara yang otoriter telah berubah menjadi negara yang demokratis. Sudah 10 tahun kita menikmati kebebasan pers, dan pers kita telah menjadi kekuatan strategis negeri ini.

Dulu di era Orde Baru pemerintah Indonesia acapkali bermasalah dengan media-media asing. Berita atau tulisan wartawan asing dianggap mengganggu stabilitas nasional Indonesia. Kita masih ingat di awal tahun 1990an terdapat kasus David Jenkins dari Sydney Morning Herald yang dilarang masuk Indonesia karena tulisan-tulisannya. Namun sekarang Media massa Indonesia sudah semakin maju, beritanya tidak kalah berani dan tajam dari media asing. Pemerintah menjadi lebih bijak menghadapi kebebasan pers. Malah yang terjadi sekarang, pemerintah negara-negara tetanggalah yang acapkali merasa “terganggu” oleh isi media massa Indonesia. Timor Leste contohnya. Beberapa waktu lalu Presiden Ramos Horta menuduh media di Indonesia terlibat membantu pemberontakan yang dipimpin oleh Kolonel Alfredo Reinaldo. Begitu pula Lee Kwan Yu, menteri Senior Singapura menuduh gagalnya perjanjian ekstradisi dan zona latihan perang di Natuna karena ulah pers Indonesia. Selain itu beberapa petinggi Malaysia juga merasa risih dengan pemberitaan media-media Indonesia yang acapkali menyoroti persoalan politik di sana. Itu semua menandakan Media Massa Indonesia sekarang justru mulai “ditakuti” oleh tetanga-tetangga kita.

Namun di sisi yang lain, persoalan bangsa Indonesia sendiri belum selesai. Problem kebangsaan masih saja terjadi. Ada suatu hal yang tidak banyak berubah selama berpuluh tahun, bahkan mungkin sejak Kebangkitan Nasional. Yaitu masalah kebudayaan. Tahun 1951 Armijn Pane, tokoh Pujangga Baru pernah menulis karya sastra yang berjudul Belenggu. Di dalam tulisan itu ia berpendapat: … yang membelenggu kita bukan kekuatan-kekuatan luar, entah itu negara agresor, industrialis global, kapitalis tamak, merek ternama atau hollywood, tapi justru jiwa yang sempit, pikiran yang kerdil, dan imajinasi yang pendeklah yang memenjarakan kita.

Jelas disitu tersirat, sebagai sebuah bangsa, jiwa kita terbelenggu. Terbelenggu oleh kebudayaan kita sendiri, yaitu jiwa kita yang sempit, budaya yang tidak disiplin. Maunya menang sendiri, tidak mau mengikuti aturan yang berlaku. Namun selalu menuntut semua hal terorganisir dengan baik. Budaya manja dan malas, yaitu tidak mau kerja keras tapi menuntut semua hal tersedia. Budaya tidak bisa menghargai pendapat orang lain. Merasa paling benar sendiri sedangkan pendapat orang lain salah. Budaya tidak demokratis, yang terkadang atas nama demokrasi kita sering merusak hasil demokrasi itu sendiri. Atas nama demokrasi tatkala unjuk rasa kita melakukan kekerasan, merusak pagar, merugikan hak orang lain dengan menutup jalan, dan masih banyak tindakan-tindakan lain yang mencerminkan budaya kita yang negatif.

Kenyataannya, selama ini media massa yang memiliki pengaruh yang begitu kuat belum mampu berkontribusi ikut mencerahkan budaya manusia Indonesia. Media massa bahkan ikut menina-bobokan masyarakat untuk menjadi bangsa yang hedonis, suka kemewahan, memuja muja privasi, tetapi enggan untuk bekerja keras dan berpikir cerdas. Kita lebih suka mencari selamat, atau menduhulukan kepentingan pribadi daripada membela kebenaran. Memang ini bukan semata kesalahan media massa, namun kontribusi media tentu amat besar terhadap persoalan kebudayaan ini.

Sekarang sudah saatnya berubah. Indonesia memerlukan perubahan budaya secara revolusioner. Kita perlu menyatukan seluruh visi, kekuatan, otoritas, dan tentu peran media, serta dunia pendidikan untuk melakukan perubahan budaya di negeri ini. Merubah dari yang kurang disiplin menjadi bangsa yang disiplin. Dari masyarakat yang banyak malas menjadi masyarakat kerja keras. Dari cenderung berpikiran negatif menjadi positif. Dari yang cenderung tidak menghargai orang lain atau pendahulu kita, menjadi lebih apresiatif. Dari yang sekadar mencari masalah dan menyalahkan beralih mencari solusi. Yang pada akhirnya merubah sikap pesimis menjadi lebih optimis. Semoga!

1 comment June 4, 2008


Recent Comments

cikalie on 100 Tahun Kebangkitan Nasional…

calendar

June 2008
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blogroll