Mencari Alternatif Rating

May 12, 2008

Rating telah menjadi kompas, pemandu, raport, bahkan kiblat bagi para pengelola media. Secara umum, rating adalah evaluasi atau penilaian atas sesuatu. Sebagai istilah dalam pengukuran kuantitatif, rating adalah persentase dari populasi yang mengkonsumsi suatu media pada periode waktu tertentu. Biasanya digunakan oleh media penyiaran, tapi bisa juga dipakai oleh media lainnya.

Namun pada perkembangannya, rating menjadi bentuk penghargaan yang tinggi pada selera massa, tak peduli itu membodohi, melecehkan logika, berisi mimpi buruk, atau memupuk budaya yang menyimpang. Sebab rating dijadikan ukuran satu satunya yang dianggap sahih, dipercaya atas layak tidaknya suatu program.

Rating sebenarnya adalah hasil dari sebuah metodologi yang penuh kontroversi, karena kuantitatif, analisis rating terbatas dan hanya mengukur jumlah orang yang menonton suatu program pada periode waktu tertentu dengan menit sebagai satuan waktu terkecil. Tetapi rating menjadi bagian dari globalisasi dan “demokrasi”. Perusahaan rating adalah perusahaan global, dengan investasi yang mahal dan beresiko. Rating sudah menjadi budaya global yang identik dengan demokrasi kebudayaan. Menentang rating identik dengan menentang hegemoni neo kapitalisme dalam globalisasi.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah rating itu merusak khalayak (audience)? Sebenarnya rating tidak merusak khalayak. Andaikata kondisi-kondisi berikut dapat terpenuhi, yaitu mayoritas khalayak berkualitas, pengelola media kreatif, aturan dan etika media ditegakkan. Begitu pula sebaliknya, rating akan merusak khalayak bila syarat-syarat diatas tidak dapat dipenuhi.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Pertama, dengan mendidik khalayak agar melek media (civic education for media literacy) dan mendorong khalayak untuk ikut melakukan pengawasan secara aktif. Kedua, menciptakan iklim yang mendorong kreativitas orang-orang media penyiaran. Rating bukanlah ‘penentu nasib’ sebuah program televisi. Ini adalah mitos yang berlebihan karena rating hanyalah salah satu alat bantu untuk menganalisis performa program acara secara kuantitatif. Ketiga, pemerintah bersama KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) harus bisa mendorong terciptanya sistem penyiaran yang sehat.

Cara yang lain adalah dengan menciptakan alternatif untuk rating. Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya mencari pengganti konsep People Meter (Diary). Menggali data yang lebih representative dengan metodologi yang transparan. Saatnya menghargai data kualitatif, yang lebih resonable, logik, mendalam, humanis, dan mencerahkan. Menciptakan kerjasama, jejaring, yang sifatnya nasional untuk menciptakan panduan alternatif bagi penyiaran

Entry Filed under: blog. Tags: , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

cikalie on 100 Tahun Kebangkitan Nasional…

calendar

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blogroll